{"id":133,"date":"2026-08-23T10:05:27","date_gmt":"2026-08-23T10:05:27","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/2026\/08\/23\/cara-memulai-mpasi-yang-tepat-untuk-bayi-enam-bulan\/"},"modified":"2026-08-23T10:05:27","modified_gmt":"2026-08-23T10:05:27","slug":"cara-memulai-mpasi-yang-tepat-untuk-bayi-enam-bulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/2026\/08\/23\/cara-memulai-mpasi-yang-tepat-untuk-bayi-enam-bulan\/","title":{"rendered":"Cara Memulai MPASI yang Tepat untuk Bayi Enam Bulan"},"content":{"rendered":"<p>Makanan pendamping ASI atau MPASI dianjurkan mulai diberikan saat bayi berusia enam bulan, karena pada usia ini ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan energi, zat besi, dan zat gizi lainnya. Tanda bayi siap antara lain mampu duduk dengan sedikit bantuan, kepala sudah tegak, dan menunjukkan ketertarikan pada makanan.<\/p>\n<p>IDAI menekankan MPASI yang tepat waktu, adekuat, aman, dan diberikan secara responsif. Menu sebaiknya lengkap, berisi karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, serta sayur dan buah. Protein hewani seperti telur, hati ayam, ikan, dan daging sangat penting karena kaya zat besi. Mulailah dengan tekstur lumat, lalu tingkatkan bertahap menjadi cincang dan makanan keluarga sesuai usia.<\/p>\n<p>Hindari menambahkan gula dan garam berlebih, serta jangan memberikan madu sebelum usia satu tahun. Jaga kebersihan tangan dan peralatan makan, dan ciptakan suasana makan yang menyenangkan tanpa paksaan. ASI tetap dilanjutkan hingga dua tahun.<\/p>\n<p>Bila si kecil sering menolak makan, berat badan tidak naik, atau muncul reaksi alergi seperti ruam dan muntah, Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter anak, termasuk melalui DokterIN.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MPASI dimulai saat bayi berusia enam bulan dengan menu bergizi lengkap dan tekstur bertahap. Pelajari prinsip dasar agar si kecil tumbuh optimal dan sehat.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_dps_reviewed_by":"","_dps_reviewed_by_url":"","_dps_reviewed_by_new_tab":false,"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-133","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ibu-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=133"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/90"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=133"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=133"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=133"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}