{"id":161,"date":"2026-09-19T08:08:11","date_gmt":"2026-09-19T08:08:11","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/2026\/09\/19\/tips-pemulihan-tubuh-setelah-melahirkan-di-masa-nifas\/"},"modified":"2026-09-24T02:36:18","modified_gmt":"2026-09-24T02:36:18","slug":"tips-pemulihan-tubuh-setelah-melahirkan-di-masa-nifas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/2026\/09\/19\/tips-pemulihan-tubuh-setelah-melahirkan-di-masa-nifas\/","title":{"rendered":"Tips Pemulihan Tubuh setelah Melahirkan di Masa Nifas"},"content":{"rendered":"<p>Masa nifas berlangsung sekitar enam minggu setelah persalinan. Pada periode ini, rahim berangsur kembali ke ukuran semula dan keluar darah nifas atau lokia yang warnanya berubah dari merah menjadi kecokelatan hingga kekuningan. Tubuh Bunda membutuhkan waktu dan perawatan yang tepat untuk pulih.<\/p>\n<p>Istirahatlah sebanyak mungkin, misalnya ikut tidur ketika bayi tidur. Konsumsi makanan bergizi seimbang dan perbanyak minum, terutama bila menyusui. Jaga kebersihan area kewanitaan dan luka jahitan, baik jahitan perineum maupun bekas operasi caesar. Mulailah bergerak ringan secara bertahap, dan hindari mengangkat beban berat sebelum dianjurkan dokter. Lakukan kunjungan nifas sesuai jadwal ke dokter atau bidan.<\/p>\n<p>Segera cari pertolongan medis bila mengalami perdarahan sangat banyak atau keluar gumpalan besar, darah nifas berbau busuk, demam, nyeri perut hebat, sakit kepala berat disertai pandangan kabur, sesak napas, atau betis bengkak dan nyeri. Luka jahitan yang kemerahan, bernanah, atau terbuka juga perlu diperiksakan.<\/p>\n<p>Bila Bunda memiliki pertanyaan seputar pemulihan, konsultasikan dengan dokter atau bidan, termasuk melalui DokterIN.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masa nifas adalah waktu penting bagi tubuh Bunda untuk pulih setelah persalinan. Simak tips perawatan dan tanda bahaya yang perlu segera diperiksakan.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_dps_reviewed_by":"","_dps_reviewed_by_url":"","_dps_reviewed_by_new_tab":false,"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-161","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ibu-anak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=161"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":227,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161\/revisions\/227"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=161"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=161"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stg.dokterin.co.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=161"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}